pris

Sejarah Singkat Pringgasela

MENGAPA DIBERI NAMA PRINGGASELA
Ada dua pendapat yang menjelaskan tentang asal-usul kenapa desa ini diberi nama PRINGGASELA, yaitu :
Pendapat yang pertama menjelaskan bahwa PRINGGASELA berasal dari dua kata yaitu PRINGGA dan SELA, PRINGGA artinya Prajurit dan SELA artinya batu, jadi PRINGGASELA artinya PRAJURIT BATU Pendapat yang kedua menjelaskan bahwa PRINGGASELA berasal dari dua kata yaitu PRINGGA dan SELA, PRINGGA artinya Peragaan/Pengganti/Bagian Raga atau Badan dan atau Keturunan dan SELA diambil dari kata SELAPARANG, jadi PRINGGASELA artinya KETURUNAN SELAPARANG Dari kedua pendapat di atas kalau dihubung-hubungkan ada benarnya akan tetapi kita lebih condong menrima pendapat yang kedua.
DARI MANA ASAL PENDUDUK PRINGGASELA
Konon pada suatu hari terjadilah sengketa diantara keluarga raja Selaparang yang akhirnya menimbulkan perpecahan yang tak terelakkan, akibatnya salah satu pihak dari keluarga raja menyingkirkan diri dan sepakat meninggalkan kerajaan dan meneruskan perjalanan menuju pulau Sumbawa. Disana mereka diterima dengan baik oleh raja Sumbawa yang kebetulan pada saat itu raja Sumbawa sangat membutuhkan bantuan untuk mengalahkan musuh-musuhnya yang pada suatu saat menyerangnya. Keluarga raja Selaparang yang baru datang ini bersedia membantu asal raja Sumbawa memberikan suatu daerah tempat menetap, raja Sumbawa menerima tawaran tersebut dan memberikan keluarga raja Selaparang suatu daerah tempat menetap.Dari tempat ini keluarga raja Selaparang selalu setia membantu raja Sumbawa menghadapi musuh-mushnya dan selalu menang.

Setinggi-tinggi bangau terbang akhirnya pulang ke sangkarnya jua, demikianlah keluarga raja Selaparang ini telah mupakat untuk kembali ke tanah leluhur mereka “Gumi Selaparang” kemudian mereka meminta ijin pada raja Sumbawa, dan dengan perasaan sedih dan berat hati raja Sumbawan melepas keluarga raja Selaparang sembari memberikan pengantar/pengiring sebanyak 44 (empat puluh empat) orang untuk menemani mereka dalam perjalanan menuju tanah leluhur. Mereka menyeberang selat Alas dan akhirnya sampailah di pelabuhan (LABUHAN HAJI) kemudian mereka beristirahat di suatu tempat bernama SISIK, setelah beberapa lama istirahat mereka melanjutkan perjalanan dan sampailah mereka di suatu tempat yang bernama PAO PAMPANG (sebelah utara Labuah Haji pada pertigaan sekarang). Di tempat inilah mereka beristirahat kembali dan memadu janji yaitu, mereka berjanji meneruskan perjalanan mencari tanah leluhur dengan membagi diri menjadi 4 (empat) kelompok (termasuk pengiring ikut dibagi) dengan ketentuan tiap kelompok mencari jalan sendiri dan siapa yang menemukan tanah leluhur (kerajaan Selaparang) merekalah yang harus mencari kelompok-kelompok yang lain untuk dapat bersatu kembali. Akhirnya tiap-tiap kelompok itu sampailah di suatu tempat yaitu :

Kelompok pertama sampai di suatu tempat yang bernama RUMBUK;
Kelompok kedua sampai di suatu tempat yang bernama SESELA;
Kelompok ketiga sampai di suatu tempat yang bernama TEMANJOR;
Kelompok keempat sampai di suatu tempat yang bernama PRINGGASELA
Kelompok keempat yang merupakan cikal-bakal penduduk desa Pringgasela menjumpai sebuah dusun yang bernama PRESAK didiami oleh orang KATENG (lokasinya sekarang di orong Presak/tanah pecatu kadus gubuk Daya dan gubuk Rempung). Orang KATENG ini petani yang rajin, mereka membuat pengairan yang cukup dan mengolah lahan yang sangat subur. Pada mulanya mereka dapat bekerja sama dengan pendatang baru ini namun akhirnya entah apa sebabnya mereka secara berangsur-angsur meninggalkan dusun serta sawah dan ladang mereka. Kemudian keluarga raja Selaparang yang merupakan pendatang baru inilah yang memanfaatkan dan mengolah tanah yang ditinggalkan oleh orang KATENG. Selanjutnya mungkin tempat ini dianggap kurang menguntungkan maka pindahlah mereka ke Utara dan memilih tempat yang selanjutnya dinamakan PRINGGASELA, diberi nama demikian untuk tetap mengingat sejarah asal keluarga raja Selaparang. Di tempat inilah mereka menetap dan beranak-pinak dan turun-temurun bersama pengantar/pengiring yang menemani mereka dari pulau Sumbawan (TOBANG).
ZAMAN KEKUASAAN RAJA KARANG ASEM
Pada ujung abad ke-19 pulau Lombok dikuasai oleh raja Karang Asem (Bali) desa Pringgasela terlibat di dalamnya malah bukan saja dikuasai akan tetapi diduduki langsung. Kita mengenal gubuk KARANG DALEM, gubuk MAKSAN (RW. Aman), gubuk GADENG (RW. Damai), adalah tempat pendudukan/perkampungan pemerintah yang berkuasa pada zaman itu. Pemerintah desa berjalan seperti biasa akan tetapi dibawah naungan pemerintah kerajaan. Pejabat kepala desa pada waktu itu adalah AMAQ SERIGAWI, kemudian diganti oleh AMAK GURAYANG, sampai timbulnya perlawanan (CONGAH) dari rakyat terhadap pemerintah kerajaan.
Timbulnya perlawanan rakyat ini akibat dari tindakan pemerintah kerajaan yang menaikkan Pajak (NATURA) yang sangat dirasakan berat oleh rakyat. Pusat perlawanan ini di PRAYA, peristiwa ini dikenal dengan sebutan SIAT PRAYA, perlawanan ini sampai pula di desa-desa tidak ketinggalan desa Pringgasela. Akan tetapi oleh karena desa Pringgsela langsung dikuasai/diduduki oleh pemerintah kerajaan, menyebabkan posisi dari pemimpin perlawanan rakya sangat sulit dan tidak menguntungkan. Maka diambillah langkah-langkah penyelamatan dengan jalan mengungsi ke desa-desa yang dianggap lebih aman disebelah timur KALI BELIMBING seperti AIKMEL, desa MAMBEN, desa PRINGGABAYA, dan sekitarnya, peristiwa ini lebih dikenal dengan sebutan RARUT.
Setelah perang CAKRA NEGARA berakhir pemerintah kerjaan Karang Asem menderita kekalahan, yang berarti disatu sisi pemerintah jajahan (Belanda) mulai bercokol dan memperkuat diri di Gumi Selaparang ini, sedangkan disisi lain kejadian ini memberikan peluang kepada para pengungsi untuk kembali ke tanah leluhur mereka. Demikianlah secara berangsur-angsur mereka datang berbondong-bondong menempati kampung halaman yang telah lama dirindukan. Kedatangan mereka ini disambut dengan perlawanan yang tidak berarti dari pemerintah kerajaan yang sesungguhnya sudah sangat lemah dan banyak dari mereka melarikan diri sedangkan sisanya bersedia hidup berdampingan serta diantaranya mau memeluk agama Islam dan tetap tinggal di desa Pringgasela sampai berakhirnya zaman Jepang, pemerintahan desa mulai diatur dan pejabat Kepala Desa pada waktu itu secara periodek.

ZAMAN PENJAJAHAN JEPANG
Kalau pada zaman penjajahan Belanda kita kenal peraturan tanam paksa (CULTURE STELSEL) maka pada zaman penjajahan Jepang kita kenal kerja paksa (ROMUSA) yang kesemuanya ini mendatangkan kemelaratan, kesengsaraan dan kemiskinan pada rakyat. Penduduk dipaksa menanam/bekerja untuk kepentingan pemerintah jajahan dan bila tidak mau, rakyat disiksa, dirampas hak miliknya bahkan sampai dibunuh. Sadar akan hal demikian itulah di desa Pringgasela pada zaman Jepang diadakan kaderisasi pejuang bangsa, pemuda-pemuda dilatih dan dibekali denga ilmu pengetahuan serta semangat patriot cinta bangsa. Mereka bernaung dalam satu wadah yang disebut BASMI dibawah pimpinan kepala desa Pringgasela pada waktu itu yaitu RAWISAH. Gerakan rakyat ini akhirnya dicium oleh pemerintah Jepang sehingga pemimpin BASMI ditangkap karena dianggap berbahaya. Selanjut pejabat kepala desa diganti oleh AMAQ MAHDAH, sampai awal zaman seribu kemerdekaan. Walaupun pemimpin BASMI ditangkap akan tetapi kegiatan untuk membasmi penjajah tetap dilakukan dibawah pimpinan SAYYID SALEH, dkk. Secara bergerilya mereka menggempur kubu kekuasaan Jepang seperti di TIMBA NUH, LENDANG MARANG/BERANG PANAS, dll.
PAJAR KEMERDEKAAN TELAH MENYINGSING
Menarik untuk kita catat bahwa tanggal 15 Agustus 1945 bom Atom menggucang Hirosima dan Nagasaki di negeri Sakura (Jepang), Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Kekalahan Jepang dalam perang Pasifik ini menjadi peluang baik bagi bangsa Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan yang telah lama didambakan dan diperjuangkan. Dua hari kemudian tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, seluruh rakyat menyambutnya dengan gembira. Namun beberapa lama kemudian gangguan dan rintang datang silih berganti. Tentara sekutu/gabungan yang menang perang mulai mendarat di Surabaya dan dibeberapa kota penting lainnya di seluruh nusantara termasuk kota SELONG. Alasannya mereka akan melucuti senjata dan melindungi tentara Jepang, padahal dibalik itu mereka membonceng tentara Belana yang mau menjajah Indonesia kembali.
DESA PRINGGASELA PASCA PROKLAMASI
Pendaratan tentara sekutu/gabungan di Indonesia khususnya di Selong dipandang sangat berbahaya, sebab itu para pejuang yang tergabung dalam BASMI serta organisasi pejuang lainnya bersatu padu sepakat untuk menyerang kubu pertahanan tentara gabungan yang terletak di tengah-tengah kota Selong (tepatnya di gedung Juang sekarang). Pertemuan terakhir di kediaman H. MUHAMMAD FAISAL memutuskan bahwa penyerangan dilakukan pada malam hari yaitu hari Sabtu, tanggal……… 1946 yang dipimping oleh SAYYID SALEH dan H. MUHAMMAD FAISAL. pada saat yang telah ditentukan mereka berkumpul di desa Pringgsela untuk sama-sama berangkat ke Selong, dalam pertempuran ini gugurlah SAYYID SALEH (berasal dari Pringgasela), H. MUHAMMAD FAISAL (berasal dari Pancor), dan ABDULLAH (berasal dari Rempung). Selanjutnya walaupun dalam keadaan peperangan dan negara masih sangat muda (baru merdeka) namun pemerintahan di desa Pringgasela berjalan seperti biasa, setiap pergantian pejabat (Kepala Desa) dilakukan secara wajar dan demokrasi. Demikianlah setelah AMAQ MAHDAH menjabat sebagai kepala desa, terpilih secara periodik yaitu;
AMAQ MENAH (Periode
H. MUHAMMAD NASIR
MASYHUR HAMNUR
MUHAMMAD ALAIM/AMAQ ZAM NIRMALA
RAHIMAH
WAHI YAKUB
HAMSIN (Periode tahun 2005 – sekarng)
Demikianlah sekelumit catatan kami tentang sejarah desa PRINGGASELA dan semoga ada manfaatnya, tegur sapa dari semua pihak untuk perbaiakn serta penyempurnaan ini catatan ini kami tunggu dengan senang hati. Akhirnya marilah ktia membangun desa kita dengan tidak meninggalkan atau melupakan sejarah untuk membangun hari esok yang lebih baik dari hari ini.
(Narasumber; MAHSUN)

Tinggalkan Balasan