Pringgasela Selatan

“Pringgasela. Pringgasela Selatan.”

Pernahkah kau berkunjung ke desaku?

Apa yang kau tau tentang desaku?

Jika belum, biar ku kupas sedikit tentang desaku.

15259706_1269023773167577_256428257385799915_o

Pringgasela. Saat hujan pertama turun dengan deras, anak-anak tertawa riang menyambut berkah-Nya, mengetuk pintu rumah ataupun jendela rumah kawannya, mengajak mereka mandi dan main bersama di tengah hujan. Mencari pancuran-pancuran besar untuk menyiram diri. Sesekali guntur memekik telinga. Mereka berteriak, berlari berteduh, kemudian tertawa bersama. Beberapa anak laki-laki mengeluarkan bola dan memainkannya di tengah hujan. Jalan yang sepi di tengah hujan pun seketika menjelma menjadi lapangan bola.

Dan setiap akhir pekan, remaja remaji saling menghubungi satu sama lain untuk sekedar membuat acara bersama. baik itu untuk sekedar rujakan, pelecing-an, ataupun bakar-bakar. Bukan bakar rumah tentunya. 😀

Ah, iya. Apa kau tau “pelecing?”

Jika kau berasal dari luar pulau Lombok, itu mungkin terdengar asing. Tapi di sini, pelecing begitu familiar. Begitu populer. Dan hampir tak pernah absen di setiap acara.

Iya, pelecing. Makanan khas Lombok yang terbuat dari dari kangkung dan tauge yang di aduk dengan sambal beberok.

Pringgasela. Jika sore menjelang, rumah inaq-inaq di tengah perkampungan terdengar ramai. Bukan ramai karena bertengkar, tetapi karena suara jajak yang berasal dari alat tenun mereka. Perempuan sasak memang identik dengan tenun. Bahkan dahulu, bisa menenun merupakan suatu keharusan bagi perempuan, karena merupakan salah satu tolak ukur seorang gadis sasak di anggap pantas untuk menikah.

Namun, zaman berkembang beritu cepat. Tak sedikit dari generasi sekarang yang tidak bisa menenun, termasuk saya.

Kurasa pemerintah desa harus segera bertindak. Mengupayakan agar “tenun” tetap populer dan diminati generasi sekarang.

Ah, Pringgasela Selatan. Sungguh banyak yang ingin ku tulis tentangmu. :)

(Wiwin)

Tinggalkan Balasan